MENCETAK GENERASI QUR'ANI YANG BERAKHLAQUL KARIMAH BERLANDASKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

MENCETAK GENERASI QUR'ANI YANG BERAKHLAQUL KARIMAH BERLANDASKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

Profile

KH.Noor Hadi Raudlatul Huffadz merupakan salah satu dari beberapa Pondok Pesantren yang ada di Pulau Dewata, Bali. Pondok ini didirikan oleh KH. Noor Hadi Al-hafidz, seorang muslim asal Moro, Demak, Jawa Tengah. Sebagai Pondok Pesantren...
Read More....... "Profile"

Galeri

Kelas XI Madrasah Aliyah menampilkan tarian Tradisional untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November Kelas IX Madrasah Tsanawiyah menampilkan tarian Tradisional untuk Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.
Read More....... "Galeri"

Kontak & Lokasi

Ustatdz Agus Cahyono S.S (+62812 3810 5783) Ustadzah Martathinova Hari S.E (+62857 3334 9730) Email : raudlotulhuffadz.bali@gmail.com _________________________________ Alamat: Jln. A. Yani, Gang. Kamboja I No 4, Abiantuwung. Kediri, Tabanan – Bali 82121
Read More....... "Kontak & Lokasi"

Profile

KH.Noor Hadi

Raudlatul Huffadz merupakan salah satu dari beberapa Pondok Pesantren yang ada di Pulau Dewata, Bali. Pondok ini didirikan oleh KH. Noor Hadi Al-hafidz, seorang muslim asal Moro, Demak, Jawa Tengah. Sebagai Pondok Pesantren Al-Qur’an, Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz yang berdiri pada tahun 1980 ini terletak di Jl. A. Yani, Gg. Kamboja 1/04, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali. Meskipun di tengah-tengah penduduk dengan notabene mayoritas non-muslim, Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz masih tetap eksis untuk para santri fokus menghafal al-Qur’an di samping mempelajari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum lainnya. Sejarah dan latar belakang berdirinya pondok pesantren ini tak lepas dari niat dan tekad progresif beliau untuk berdakwah dan mendirikan pesantren di Bali.

Pasca lulus nyantri dari KH. Arwani Amin Al-hafidz, seorang ulama’ Qur’an termasyhur di Kudus, Jawa Tengah, beliau, KH. Noor Hadi Al-hafidz pada tahun 1979, berangkat menuju Pulau Dewata. Sebagai warga Nahdlatul Ulama’ (NU) yang kelak akan menjadi Rois Syuriah PWNU Bali, beliau, KH. Noor Hadi Al-hafidz untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sebuah mushala kecil di Tabanan sebelum berinteraksi dengan penduduk lokal dan pada akhirnya diperkenankan mengajar di sana.

Di mushala kecil yang terletak di Jl. A. Yani inilah jadi cikal bakal beliau memulai perjuangan mendirikan Pondok Pesantren. Berawal dari pelaksanaan pengajian di satu kecamatan, KH. Noor Hadi Al-hafidz bersama enam orang teman seperjuangannya menyewa tempat di sebuah ruko di pasar. Perjuangan memang selalu tak berjalan lancar, sering kali beliau mendapatkan hambatan, mendapatkan sambutan negatif dari orang-orang setempat. Namun dengan penuh khidmat dan kesabaran, perlahan ujian itu menyingkir dengan sendirinya.

Tak selesai sampai di situ. Kelesuan ekonomi yang menimpa masyarakat pada tahun itu merupakan tantangan beliau untuk merealisasikan niat dan tekad progresifnya dalam membangun pesantren. Pemikiran bahwa ekonomi berdampak signifikan bagi aktualisasi pendidikan di dalam pesantren adalah langkah awal yang dilakukan oleh KH. Noor Hadi Al-hafidz dalam memulihkan kondisi masyarakat dan umat islam. Hal ini bertujuan apabila suatu masyarakat, terlebih umat islam telah berkecukupan secara ekonomi, maka kegiatan pendidikan pesantren dan syi’ar islam akan lebih mudah untuk diwujudkan. Hal ini diapresiasi setelah beliau mendapatkan dukungan dari pejabat daerah yang kebetulan pada waktu itu ada yang beragama islam.

Langkah yang beliau ambil ini tidak terlepas dari semangat dan motivasi beliau untuk menyi’arkan islam dan mendirikan Pondok Pesantren di Bali yang jauh berbeda dari kultur kehidupan jawa. Namun KH. Noor Hadi Al-hafidz yang dalam dirinya dipenuhi semangat Al-qur’an berkeyakinan bahwa hanya Al-qur’an lah yang mampu melampaui seluruh sekat-sekat kebudayaan atas nama etnik, ras, suku dan perbedaan antar-golongan. sebagaimana dijelaskan di dalam ayat Al-qur’an (QS. An-Nisa’: 59). Lantas berdasarkan hal inilah niat dan tekad progresif beliau mendirikan pondok pesantren di Bali semakin menggebu.

Sebab selalu mengingat amanah dari guru beliau, yaitu KH. Kyai Arwani Al-hafidz, Kudus, agar mendirikan sebuah pondok dengan nama Raudlatul Huffadz, yang didoakan wanginya seperti Raudlotul Jannah atau taman surga. Amanah sekaligus sumber inspirasi untuk beliau mengamalkan ilmunya. Kemudian Taman Surga itupun didirikan di atas sebidang tanah dengan ukuran 3×4 meter hasil jerih payah beliau sendiri. Di masa-masa perintisan ini, beliau mengajar sendiri dengan santri seadanya serta tidur bersama di atas lantai bangunan sempit itu. Kendati demikian, setelah fondasi tertanam, tiang-tiang pondok berdiri, inisiasi beliau selanjutnya adalah membangun sebuah masjid.

Perjalanan Pondok Pesantren Al-qur’an Raudlotul Huffadz di periode awal ini berhubungan dengan berdirinya sebuah masjid yang sekarang familiar masyarakat kenal dengan sebutan Masjid Al-Huda Kediri, Tabanan. Tentu saja, adanya Peraturan Daerah yang mengharuskan setiap pendirian tempat ibadah terlebih dahulu terdapat komunitas kecil, paling tidak terdiri 60 KK hingga 100 KK dan berstatus aktif sebagai penduduk indonesia yang dapat dibuktikan melalui KTP adalah tantangan tersendiri. Mengingat kondisi di sekitar tak selalu berujung mudah, jangankan membangun pesantren atau mendirikan tempat-tempat ibadah pada umumnya, untuk memenuhi kebutuhan pribadi pun terbilang runyam.

Maka untuk mencari altrernatif dari kemelut tersebut, dicetuskanlah inisiatif saling lelang dan iuran di antara warga demi mendirikan sebuah masjid. Juga dalam rangka turut andil positif bagi kemajuan bangsa dan negara, beliau bersama enam orang teman seperjuangannya yang bertalarbelakang sama-sama warga NU, membentuk suatu badan kepengurusan tanpa Surat Keputusan (SK) dari PBNU. Bukan karna mereka berkeinginan mendirikan kepengurusan secara ilegal, namun pada saat itu belum jatuh tempo terlaksananya Mukhtamar. Waktu bergulir. Akhirnya beliau mendapatkan surat undangan untuk menghadiri dua muktamar, di Situbondo dan di Yogya. Karna mendirikan kepengurusan tanpa SK, mereka pun tak mempunyai hak suara di dalam forum. Di tahun berbeda, tepatnya muktamar di Pasuruan. Pengurus PBNU membawa surat yang berisikan tentang pembekuan NU Bali. Meski tak sampai melapuk, dengan segala upaya diplomasi panjang, NU Bali sudah diakui dan KH. Noor Hadi Al-hafidz menjabat sebagai Rois Syuriah dari pertama berdirinya hingga kini. Bahkan sebagai Rois Syuriah terlama. Selain menjabat sebagai Rois Syuriah, selain berkontribusi baik dalam ranah agama, bangsa dan negara, beliau sampai sekarang masih tetap mengasuh dan mengembangkan eksistensi Pondok Pesantren Raudlatul Huffazh miliknya.


Pendidikan
MTs, MA Raudlotul Huffadz, TPA, dan Madin


Fasilitas
Fasilitas Pondok Pesantren : Masjid, asrama santri, kantor, asrama pengasuh, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, gudang, kamarmandi/wc, klinik kesehatan.


Ekstrakurikuler
Seni baca Al-Qur’an, marawis, baca kitab kuning, pidato, pramuka, komputer, bahasa asing, kaligrafi, silat, basket, voli, sepakbola,dll.

Galeri

Kelas XI Madrasah Aliyah menampilkan tarian Tradisional untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November

Pendaftaran

Register with us by filling out the form below.

Formulir Pendaftaran Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz

Selanjutnya

Data Orang Tua

Kontak & Lokasi

Ustatdz Agus Cahyono S.S (+62812 3810 5783)

Ustadzah Martathinova Hari S.E (+62857 3334 9730)

Email : raudlotulhuffadz.bali@gmail.com

_________________________________

Alamat: Jln. A. Yani, Gang. Kamboja I No 4, Abiantuwung. Kediri, Tabanan – Bali 82121